
Tidak Membantu Anak Belajar Berjalan
Selain penyebab kecelakaan, penggunaan baby walker juga diduga dapat mengakibatkan kelainan kaki. Sayang, kesadaran orang tua di Malaysia akan keamanan baby walker yang kurang tampaknya masih kurang. Nyatanya di sini baby walker masih saja digunakan, atau setidaknya produk ini masih banyak dijual di pasaran.
Terkesan Praktikal
Lalu mengapa alat bantu jalan ini tetap diminati? Menurut Dr. Karel, karena baby walker secara sekilas terkesan praktikal. Si kecil tinggal dimasukkan ke dalamnya, lalu ia pun mampu berjalan ke sana kemari dengan semahunya. Bagi bayi berusia 7-12 bulan yang sedang aktif dan tengah melatih kemampuannya berjalan, baby walker merupakan penyelamat tenaga ibubapanya. Bukankah dengan begitu orang tua jadi tak perlu keletihan menatih si kecil?
Apalagi di balik bahaya tersembunyi yang ada, baby walker kelihatan sebagai benda yang bermanfaat. Ketika bayi duduk atau berdiri dalam baby walker-nya, ia mampu menggerakkan kaki-kakinya dengan lincah. Jadilah orang tua berfikir, “Ah, kaki anakku jadi terlatih untuk bergerak. Inikan baik untuk persiapan fasa berjalannya.” Namun, alasan penggunaan baby walker yang paling utama biasanya berkaitan dengan upaya mengatasi keinginannya bergerak ke sana kemari. Dengan mampu bergerak bebas bayi menjadi lebih tenang dan tidak bosan. Sementara bagi orang tua, ketenangan si bayi memberi kesempatan kepadanya untuk mengurus berbagai pekerjaan rumahtangga tanpa harus mendampingi si kecil setiap saat.
Ribuan Keelakaan
Kenyataannya, menurut penelitian di Amerika Syarikat sekitar 14.000 kes bayi dimasukkan ke hospital disebabkan oleh kecelakaan saat menggunakan baby walker. Antara lain karena Si Kecil suka bereksplorasi ke setiap sudut rumah, komposisi roda yang tidak mendukung keamanan, komposisi rangka kurang kukuh, dan bentuknya yang membuat anak mudah jatuh.
Namanya juga bayi, tentu saja ia belum mampu mengenal situasi lingkungan; belum mampu membezakan mana permukaan curam atau landai, tangga atau lantai, benda berbahaya atau aman. Inilah beberapa kecelakaan yang sering terjadi akibat penggunaan baby walker:
• meluncur di tangga. Kecelakaan ini kemungkinan besar mengakibatkan patah tulang dan luka serius pada kepala
• terkena benda panas. Ketika duduk dalam baby walker anak mampu meraih benda-benda yang dapat membahayakan dirinya. Contohnya secangkir kopi panas di atas meja
• tenggelam. Tanpa disadari anak meluncur (dengan menggunakan baby walker-nya) ke dalam kolam renang, bath tub, atau mangkuk tandas lalu terjatuh ke dalamnya.
• meraih objek berbahaya. Dengan baby walker, anak lebih mudah meraih objek berbahaya seperti gunting, pisau, atau garpu yang terletak di atas meja misalnya
• tersepit. Ketika melewati permukaan yang bercelah, kaki bayi mungkin terjepit dan terkilir. Tangannya juga mungkin saja tersepit saat meraih celah daun pintu
Yang mengejutkan, penelitian menyatakan bahawa majoriti kecelakaan baby walker terjadi ketika orang tua/pengasuh sedang mengawasi anaknya. Mengapa demikian? Karena kita seringkali kalah dengan kecepatan bayi dalam baby walker yang dapat meluncur lebih dari 1 meter dalam 1 saat. Untuk itulah baby walker sama sekali tidak aman digunakan meskipun di bawah pengawasan orang dewasa.
Menyebabkan Kelainan Kaki
Dr. Karel masih menambahkan soal penggunaan baby walker yang dari sisi medik pun tidak cukup bermanfaat, malah cenderung merugikan. Karena aktivitas motor yang terjadi pada saat anak menggunakan baby walkerhanya melibatkan otot-otot betis sahaja. Padahal untuk mampu berjalan dengan lancar dan benar, fungsi otot paha dan otot pinggul juga perlu dilatih.
Kemampuan berjalan merupakan salah satu ketrampilan motor kasar (gerakan yang dihasilkan oleh koordinasi otot-otot besar), yang umumnya mampu dilakukan anak 1 tahun dengan toleransi waktu 3 bulan. Bila proses pelatihannya tidak benar maka akan membuat anak jadi lambat berjalan. Sebaliknya, semakin intensif dan tepat stimulasi fisiknya maka perkembangannya pun semakin pesat. Bila dibekalkan dengan gizi yang seimbang, mungkin saja di usia 9-10 bulan bayi sudah mampu berjalan.
Jadi manfaat penggunaan baby walker tidak cukup membantu anak untuk latihan berjalan. Di tempat berbeza Dr. Jacinta F. Rini, M.Si., dari e-psikologi.com, menambahkan, secara psikologis penggunaan baby walker memang tidak menguntungkan, “Secara psikologis baby walker akan membuat anak malas untuk belajar berjalan sendiri karena anak sudah biasa merasa enak bila mampu bergerak ke mana pun tanpa harus susah payah menjejakkan kakinya.”
Penggunaan baby walker bahkan dicurigai mampu mengakibatkan kelainan kaki pada anak. Memang belum ada penelitian yang mendalam, namun, kenyataan bahawa bayi duduk sambil mengangkang dalam baby walker¬nya diduga mampu menyebabkan kelainan tulang paha. Nah, berdasarkan pemahaman inilah, banyak ahli menduga penggunaan baby walker dapat menyebabkan anak berjalan agak mengangkang.
Terbiasa berjalan dengan baby walker juga mampu menimbulkan kelemahan otot-otot. Ketika diajarkan berjalan anak cenderung jatuh yang akhirnya sering membuatnya trauma dan tidak mahu melakukannya lagi sehingga kemampuan berjalannya pun menjadi lebih lambat.
Alami Lebih Baik
Jadi menurut Dr. Karel, tinggalkan baby walker. Juga, ketimbang mencari-cari alternatif alat bantu jalan lainnya, ia lebih menyarankan agar Si Kecil diajak berenang, karena dengan begitu semua otot tubuhnya bergerak, dari otot kaki, lengan, dan leher. Kalaupun tidak, cara melatih anak berjalan yang terbaik adalah yang alami. “Sangat baik anak belajar berjalan secara alami karena dapat melatih 100% serabut motor otot. Mulai otot betis, paha, maupun pinggul. Bila keseluruhan serabut otot dilatih maka anak mampu berjalan dengan lebih baik. Jadi secara medik lebih menguntungkan kalau kita pakai cara alami daripada menggunakan baby walker.” Meskipun si kecil harus jatuh bangun, anggaplah hal ini sebagai pelajaran dari pengalamannya sendiri.
Yang patut dicermati, sebaiknya latihan berjalan dilakukan dengan bertelanjang kaki. Cara ini akan melatih jari-jari kak
No comments:
Post a Comment